Fiqih Musafeer: Santun dengan Budaya Salam

An Nisa 86“Apabila kamu diberi penghormatan dengan sesuatu penghormatan (salam), maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik dari padanya, atau balaslah penghormatan itu (dengan yang serupa). Sesungguhnya Allah memperhitungankan segala sesuatu.” (An-Nisa (4):86)

Hal yang paling mudah sekaligus sangat sulit untuk dilaksanakan ialah menyampaikan salam kepada sesama muslim. Disebut mudah karena untuk menerapkannya kita tidak membutuhkan modal apapun jua, kecuali keberanian untuk melakukannya. Nah, urusan mental itulah yang menjadikan perkara ini tergolong sulit untuk dilakukan setiap harinya. Bayangkan, beranikah diri kita yang, sambil tersenyum, mengucapkan salam pada orang-orang yang kita temui saat berpapasan dimanapun dan kapanpun?

jabat-tanganJujur, saya sendiri mengaku jika saya masih jauh dari kata sempurna dalam mengamalkan ayat yang satu ini. Setidaknya belum, dan bukan tidak. Memasang muka manis, dan mengucapkan kalimat salam, rasanya mudah untuk saya lakukan karena telah terbiasa melakukannya dalam beberapa tahun terakhir. Namun, melakukannya di hadapan orang-orang asing yang belum saya kenal sama sekali? Entahlah, rasanya begitu sulit, Kawan.

Namun, mari kita coba biasakan diri kita dalam penerapan amal sholih ini dari hal-hal yang mudah bagi kita terlebih dahulu. Mari kita mulai kebiasaan baik ini dari lingkungan keluarga yang telah menemani kita selama puluhan tahun. Mari mulai dari orang tua kita, kakak-adik kita, atau bahkan pasangan hidup kita. Acap kali bertemu dengan mereka, tak ada salahnya jika kita mengucapkan salam dengan santun dibarengi dengan senyum yang manis, kan? Sikap semacam ini menunjukkan penghormatan kita kepada mereka semua, sekaligus bukti kasih saying dan penghargaan kita terhadap kehadiran mereka di sisi kita. Dan yang paling penting, dari sinilah kita dapat merajut nilai-nilai keharmonisan dalam hubungan dengan sesama manusia. Sepele memang, namun berefek luar biasa bukan?

2872057550_dc3b39e224_oLambat laun, Anda dapat memulai kebiasaan baik ini dalam lingkungan kerja Anda, komunitas social yang Anda geluti, lingkungan tempat tinggal Anda, atau bahkan –bagi para traveler– lingkungan kota sekitar yang Anda lewati dalam perjalanan Anda. Bukan mustahil jika gerakan yang dimulai secara kecil-kecilan ini akan booming mendunia berkat ketekunan dan keuletan kita semua. Toh, mana ada orang yang akan mencaci maki Anda hanya karena senyum dan salam yang Anda sampaikan kepadanya. Malah yang muncul dari tanggapan mereka adalah decak kagum akan keindahan ajarn Islam ini. Sepakat?

Iklan

2 thoughts on “Fiqih Musafeer: Santun dengan Budaya Salam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s