Behind the Scene #1hari1ayat: Sedikit Keraguan di Dada ini…

Salah satu syarat utama untuk menyukseskan gerakan ini ialah keikutsertaan masing-masing individu selama sebulan penuh. Artinya, setiap peserta wajib memosting di blognya minimal satu ayat setiap harinya selama bulan Januari. 31 hari non-stop. Memang berat, tapi disinilah letak tantangannya berada. Memang sulit, namun akan terasa indah ketika kita berhasil melewatinya (ini yang saya alami saat ini… ^^) Dan memang terkesan mustahil, namun saya juga sadar bahwa hanya orang-orang luar biasa yang mampu menaklukkan kemustahilan. Namun itu bukan berarti saya berhasil melewati gerakan ini tanpa kebimbangan dan keraguan sedikitpun. Tetap saja saya pernah merasakan ‘kegalauan’ semacam itu pula. Mayoritas saya alami di masa-masa awal program #1hari1ayat ini bergulir.

Penyebab utama dari keraguan yang menjangkiti hati saya ketika itu adalah domisili tempat tinggal saya. Yaitu sebuah Pondok Pesantren di kaki Gunung Lawu. Anda boleh memanggilnya dengan julukan yang selama ini disematkan kepadanya: Kampung Dua Menara.

Potret Indah 'Kampung Dua Menara'

Potret Indah ‘Kampung Dua Menara’

Salah satu aturan utama disana adalah larangan bagi tiap santrinya untuk membawa fasilitas-fasilitas penghubung dengan dunia luar. Termasuk laptop. Aih, bagaimana mungkin saya dapat berpartisipasi dalam gerakan #1hari1ayat tanpa adanya fasilitas mumpuni? Bagaiamana caranya agar saya setiap harinya dapat memosting di blog tanpa adanya koneksi dengan dunia maya? Mengakalinya dengan merapel seminggu sekali ketika berada di rumah memang ide yang cukup bagus. Tapi tetap saja itu akan mengurangi dan mengecilkan nilai perjuangan dari even ini. Galau, galau, dan galau…itu yang saya rasakan.

Tnpa Laptop, mana mungkin...??

Tnpa Laptop, mana mungkin…??

Untung saja di tengah kekalutan itu, Allah SWT meneguhkan pendirian saya untuk tetap meneruskan perjuangan mengikuti program ini. Meski belum mendapatkan titik terang dalam permasalahn satu ini, saya tetap yakin jika Allah sedang menyiapkan jalan keluar terbaik bagi diri saya. Dan benar saja, beberapa saat kemudian saya berhasil mendapatkan pemecahannya. Berkat dukungan dari salah seorang ustadz yang akrab dengan saya berikut dukungan dari sahabat-sahabat saya, saya pun sukses mengikuti ajang ini hingga tuntas. Pokoknya segala puji bagi Allah deh…. 🙂

Disini, melalui blog ini, saya ingin mengucapkan terima kasih buaaaanyak kepada orang-orang yang telah mendukung aktivitas saya ini. Meski sempat diliputi keraguan, pada akhirnya mereka-lah orang-orang yang terus mendorong saya dari belakang. Menyemangati tanpa kenal lelah dan menemani perjuangan saya dalam menuntaskan gerakan ini. Thanks, hope the best for you all, guys. 🙂

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s