Tour de Java: Antara Emas, Masjid, dan Wisata Religi

(Depok_bag akhir)

Hey bro…Akhirnya setelah sebulan lebih vakum sejenak, catatan perjalanan ‘Tour de Java’  kembali hadir untuk Anda. Bersiap menemani kembali hari-hari Anda dengan kisah-kisah inspiratif yang saya dapatkan selama mengelilingi Pulau Jawa. Cekidot yuk..!!

Di hari ketiga keberadaan saya di Kota yang dipimpin oleh Bapak Nur Mahmudi Ismail itu, saya meminta kepada teman saya, Naufal Ahmad, untuk mengantarkan saya ke salah satu destinasi wisata religi yang ada disana. Akhirnya, pilhan kami pun jatuh ke Masjid Kubah Emas. Masjid yang kemegahannya telah mahsyur di seantero Indonesia bahkan Asia Tenggara.

Terlihat Gagah dari Pekarangannya

Terlihat Gagah dari Pekarangannya

Masjid ini terletak di tepi Jalan Raya Meruyung, Kecamatan Limo, Depok. Jarak yang kami tempuh untuk menuju kesana lumayan jauh juga sih…Namun tetap masih terjangkau olah moda transportasi umum. Berangkat dari rumah sekitar pukul 3 sore, kami berdua sampai di tempat itu sejam kemudian. Lengkap dengan berbagai aksesoris khas jurnalis dan fotografer sejati.

Terpana. Hanya perasaan itu yang bergejolak di dada saya saat itu. Luar biasa indah, bung. Bangunannya berdiri di atas tanah seluas 50 hektar lebih. Menara-menara masjid yang jumlahnya 4 buah (kalau gak salah ^^) menjulang tinggi menambah keindahan masjid itu. Dan puncak kemegahan bangunan ini ialah: lapisan emas yang menutupi kubah masjid yang bernama asli Masjid Dian Al-Mahri ini. Keren kan? Sialnya, kamera DSLR yang kami kehabisan baterai….(saya Cuma bisa berteriak kesal 😦  ) Akhirnya semua keindahan yang ada itu hanya bisa kami abadikan melalui kamera hape Naufal deh….

Tampilan Luar Masjid Kubah Emas

Tampilan Luar Masjid Kubah Emas

Setelah menunaikan shalat asar disana, kami berdua menyempatkan diri barang sejenak untuk membaca Al Qur’an disana. Itung-itung muroja’aah hafalan juga sih…Naufal mengandalkan software yang ada di HP-nya, sedangkan saya mengandalkan secuil hafalan yang masih nyantol di otak ini. Gak taunya, ternyata ada dua orang yang sedang mengamati aktivitas kami itu. Saya berusaha bersikap cuek bebek meski sadar kalau diamati semenjak tadi. Ketika kami mengambil beberapa foto sebelum pulang, dua orang itu memanggil kami dan meminta kami mendekat ke arah mereka. Curiga sih awalnya, namun tetap aja kami menuruti kemauan mereka. Sesampainya disana, kami diajak kenalan lebih lanjut. Ternyata mereka berdua kagum dengan hafalan kami yang lumayan tinggi untuk anak-anak seusia kami (saya dan Naufal sama-sama 16 tahun ketika itu). Mereka berdua juga sedang berusaha menghafal Al Qur’an secara perlahan-lahan. Makanya mereka mengajak kenalan lalu meminta beberapa tips dari kami seputar cara ampuh menghafal Al Qur’an. Setelah mengobrol cukup lama, akhirnya adzan pun berkumandang dengan megah di masjid itu. Kami pun menunaikan shalat maghrib berjama’ah terlebih dahulu. Baru saya ketahui jika ternyata imam rutin shalat 5 waktu disana termasuk merupakan seorang penghafal Al Qur’an pula. Dan ternyata, kedua orang tersebut merupakan sahabat sang imam!

Pemandangan Dalam Masjid

Pemandangan Dalam Masjid

Bubar shalat Maghrib, kami buru-buru ngacir keluar, khawatir bakal kehabisan angkot jika diajak ngobrol lebih lama. Lagian, kami juga cukup lelah, sehingga wajar jika merebahkan tubuh di kasur empuk merupakan keinginan paling besar kami ketika itu. Akhirnya setelah berfoto-foto riya di pekarangan(by teh way, masih memakai kamera hape Naufal -_-), kami pun keluar dari komplek megah Masjid Dian Al Mahri itu…

Jujur, ada sedikit perasaan kecewa di dada saya saat mengunjungi masjid itu. Melihat begitu megahnya kualitas bangunan yang ada, saya jadi membandingkannya dengan kualitas umat Islam di zaman modern ini. Dimana umat seakan lupa akan eksistensinya sebagai penganut ajaran Rasulullah SAW. Degradasi moral marak menjamur di berbagai tempat. Apalgi dibarengi dengan arus pemikiran barat yang serba ‘bebas’. Dalam perjalanan pulang, saya jadi berpikir, alangkah baiknya jika segepok uang yang digunakan untuk membangun komplek masjid itu dialokasikan untuk peningkatan generasi muda muslim saat ini. Membangun bibit-bibit penerus bangsa yang unggul, juga mengkader para pewaris Indonesia yang tahan banting melawan dahsyatnya arus globalisasi di zaman mereka.

Ditengah kemelut pemikiran itu, saya baru menyadari jika angkot kami telah sampai di depan gang rumah Naufal. Satu kesimpulan saya saat itu: Let’s take a rest, guys…

Oleh-oleh dari Penulis ^^

Oleh-oleh dari Penulis ^^

Iklan

One thought on “Tour de Java: Antara Emas, Masjid, dan Wisata Religi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s